Thursday, 20 January 2011

Kemitraan Usaha

1. Definisi Kemitraan Usaha

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata mitra adalah teman, kawan kerja,pasangan kerja, rekan. Kemitraan artinya, perihal hubungan atau jalinan kerjasama sebagai mitra. Sedangkan menurut Dr. Muhammad Jafar Hafsah, kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan. Karena merupakan strategi bisnis maka keberhasilan kemitraan sangat ditentukan oleh adanya kepatuhan diantara yang bermitra dalam menjalankan etika bisnis. Dua pendapat tersebut apabila dipadukan akan menghasilkan definisi yang lebih sempurna, bahwa kemitraan merupakan jalinan kerja sama usaha yang merupakan strategi bisnis yang dilakukan antara dua pihak atau lebih dengan prinsip saling membutuhkan, saling memperbesar, dan saling menguntungkan.

Pada dasarnya kemitraan itu merupakan suatu kegiatan saling menguntungkan dengan pelbagai macam bentuk kerja sama dalam menghadapi dan memperkuat sattu sama lainnya. Julius Bobo menyatakan bahwa tujuan utama kemitraan adalah untuk mengembangkan pembangunan yang mandiri dan berkelanjutan dengan landasan dan struktur perekonomian yang kukuh dan berkeadilan dengan ekonomi rakyat sebagai tulang punggung utamanya. Sedangkan kemitraaan usaha adalah sebuah jalinan kerjasama usaha yang salin menguntungkan antara pengusaha kecil dengan pengusaha menengah atau besar (perusahaan mitra) yang disertai dengan pembinaandan pengembangan oleh pengusaha besar, sehingga saling memerlukan, menguntungkan, dan memperkuat usahanya.

Usaha kecil yang dimaksudkan adalah kegiatan ekonnomi rakyat berskala kecil yang mempunyai kriteria sebagai berikut: (1) memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,- tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. (2) memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak satu milyar rupiah. (3) milik Warga Negara Indonesia. (4) usaha itu berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha menengah atau besar. (5) brbentuk usaha orang perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi.

Kemitraan berlangsung antara semua pelaku dalam perekonomian baik dalam arti asal usul atau kepemilikannya, yang meliputi BUMN, badan usaha swasta, dan koperasi; maupun dalam arti ukuran usaha yang meliputi usaha besar, usaha menengah, dan usaha kecil. Selain aspek pelaku, dalam aspek objeknya, kemitraan bersifat terbuka dan menjangkau segala sektor kegiatan ekonomi.

Konsep kemitraan usaha dalam pembangunan UKM di Indonesia setidaknya mulai dicanangkan oleh pemerintah setelah berlakunya UU No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil dan Inpres No. 10 Tahun 1998 tentang Usaha Menengah. Kemitraan usaha dalam lingkungan pelaku UKM sudah tidak asing lagi. Kemitraan usaha dianggap menjadi salah satu alternatif upaya untuk mengatasi berbagai problem internal yang dihadapi. Kemitraan usaha dimaknai sebagai bentuk hubungan bisnis antara usaha kecil dan menengah dengan usaha besar dengan tetap memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan. Secara ideal, kemitraan usaha diorintasikan untuk menghindari kesenjangan (gap) antara usaha kecil menengah dengan usaha besar guna membangun keseimbangan dunia usaha (ekonomi), terciptanya ketahanan usaha yang berkelanjutan bagi UKM dan usaha besar dalam menghadapi persaingan bisnis global, terwujudnya solidaritas dan saling melindungi sesame dalam kerangka penguatan basis ekonomi nasional, lebih dari itu kemitraan usaha menjadi alat perekat kemandirian ekonomi bangsa guna mewujudkan keadilan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Dalam konsep kerjasama usaha melalui kemitraan ini, jalinan kerja sama yang dilakukan antara usaha besar atau menengah dengan usaha kecil didasarkan pada kesejajaran kedudukan atau mempunyai derajat yang sama terhadap kedua belah pihak yang bermitra. Ini berarti bahwa hubungan kerjasama yang dilakukan antara pengusaha besar atau menengah dengan pengusaha kecil mempunyai kedudukan yang setara dengan hak dan kewajiban timbal balik sehingga tidak ada pihak yang dirugikan, tidak ada yang saling mengeksploitasi satu sama lain dan tumbuh berkembangnya rasa saling percaya diantara para pihak dalam mengembangkan usahanya. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan atau diperhatikan dalam kegiatan kerjasama kemitraan agar dapat terjaga dengan baik, yaitu (a) pembinaan dan pengembangan (b) prinsip saling memerlukan, memperkuat, dan menguntungkan.

2. Tujuan Kemitraan

2.1. Tujuan dari Aspek Ekonomi

Dalam kondisi yang ideal, tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan kemitraan secara lebih konkret yaitu: (1) meningkatkan pendapatan usaha kecil dan masyarakat; (2) meningkatkan perolehan nilai tambah bagi pelaku kemitraan. Menurut Gregory Grossman dalam bukunya Sistem-Sistem Ekonomi, terdapat tiga jenis efisiensi diantaranya, yaitu efisiensi teknis, efisiensi statis, dan efisiensi dinamis. Menurut Ja’far Hafsah, M., secara umum produktivitas didefinisikan dalam model ekonomi sebagai output dibagi dengan input.

2.2. Tujuan dari Aspek Sosial dan Budaya

Kemitraan usaha dirancang sebagai bagian dari upaya pemberdayaan usaha kecil. Pengusaha besar berperan sebagai faktor percepatan pemberdayaan usaha kecil sesuai kemampuan dan kompetensinya dalam mendukung mitra usahanya menuju kemandirian usaha, atau dengan kata lain kemitraan usaha yang dilakukan oleh pengusaha besar yang telah mapan dengan pengusaha kecil sekaligus sebagai tanggung jawab sosial pengusaha besar untuk ikut memberdayakan usaha kecil agar tumbbuh menjadi pengusaha yang tangguh dan mandiri.

2.3. Tujuan dari Aspek Teknologi

Secara faktual, usaha kecil biasanya mempunyai skala usaha yang kecil dari sisi modal, penggunaan tenaga kerja, maupun orientasi pasarnya. Demikian pula dengan status usahanya yang bersifat pribadi atau kekeluargaan; tenaga kerja berasal dari lingkungan setempat; kemampuan mengadopsi teknologi, manajemen, dan administratif sangat sederhana; dan struktur permodalannya sangat bergantung pada modal tetap.

5.2.4. Tujuan dari Aspek Manajemen

Pengusaha kecil yang umumnya tingkat manajemen usaha rendah, dengan kemitraan usaha diharapkan ada pembenahan manajemen, peningkatan kualitas sumber daya manusia serta pemantapan organisasi.

Dalam rangka merealisasikan kemitraan sebagai wujud dari keterkaitan usaha, maka diselenggarakan melalui pola-pola yang sesuai dengan sifat dan tujuan usaha yang dimitrakan, yaitu : (1) pola inti plasma (2) pola sub-kontrak (3) pola dagang umum (4) pola keagenan (5) pola waralaba.

Manfaat dari kemitraan usaha antara lain: membangun kebersamaan dan penguatan sesama pelaku bisnis, memenuhi kebutuhan dalam menjaga kinerja kompetitif perusahaan, berkesinambungan dan berkelanjutannya usaha dalam sektor yang sama atau yang relted, membangun kebersamaan dan penguatan sesama pelaku bisnis. Kemitraan usaha yang produktif dan otentik menekankan stakeholder sebagai subyek dan dalam paradigm “common interest” . Pola ini dapat saja didukung oleh “resource based partnership” (kerjasama berdasar sumber daya) dimana stakeholders diberi kesempatan menjadi shareholders.

Diciptakannya hubungan kemitraan usaha antara pengusaha besar/ekspor dan pengusaha kecil/pribumi ini didasarkan atas saling memerlukan, saling menguntungkan dan saling mengembangkan. Dalam hal ini para pengusaha besar atau ekspor bertindak/berfungsi sebagai pengekspor hasil usaha milik rakyat/pengusaha kecil, baik yang digolongkan sebagai “industri rakyat” atau berupa barang hasil kerajinan rakyat (handicraft product) maupun hasil pertanian, terutama hortikultura dan pengusaha kecil sebagai penyedia produk usaha dengan kualitas ekspor.

Dalam praktek pelaksanaannya, kemitraan usaha yang terjalin antara usaha besar atau menengah denagn usaha kecil memerlukan lembaga pendukung lain yang akan mempermudah keberlangsungan kemitraan tersebut. Lembaga-lembaga tersebut memiliki peran dan fungsi masing-masing yang sangat dibutuhkan oleh kedua belah pihak. Lembaga Pembiayaan memberikan prioritas pelayanan dan kemudahan memperoleh pendanaan bagi usaha kecil, yang bermitra dengan usaha besar atau usaha menengah. Lembaga Penjamin memberikan prioritas pelayanan dan kemudahan bagi usaha kecil yang bermitra dengan usaha besar atau usaha menengah untuk memperoleh jaminan pendanaan. Lembaga pendukung lain berperan mempersiapkan dan menjembatani usaha kecil yang akan bermitra dengan usaha besar atau usaha menengah.

Salah satu cara untuk melakukan kemitraan dengan memanfaatkan lembaga pendukung adalah Program Kemitraan Terpadu. Program Kemitraan Terpadu adalah program kemitraan antara usaha kecil dan usaha besar dengan melibatkan Bank sebagai pemberi kredit dalam suatu ikatan kerjasama yang dituangkan dalam Nota Kesepakatan. Program Kemitraan Terpadu bertujuan untuk meningkatkan kelayakan usaha kecil, meningkatkan keterkaitan dan kerjasama yang saling menguntungkan antara usaha besar dan usaha kecil, serta membantu Bank dalam meningkatkan Kredit Usaha Kecil (KUK) secara lebih aman dan efisien.

Terdapat dua konsep yang keliru mengenai hubungan bisnis pendekatan keluarga dan pendekatan bisnis.

a. Pendekatan Keluarga

Pendekatan keluarga dalam mengembangkan hubungan bisnis memiliki segi positif. Pendekatan keluarga dilandasi kepercayaan, dan hubungan bisnis sangat memerlukan dasar tersebut agar transaksi bisnis dapat berjalan secara lancer dan efektif. Segi negatifnya, seringkali menimbulkan hambatan karena pihak yang terkait tidak dapat melaksanakan hubungan bisnis secara businesslike.

b. Pendekatan Bisnis

Pendektan bisnis memiliki keterbatasan dalam menyediakan kompetensi yang diperlukan untuk menghasilkan produk dan jasa bagi customer. Oleh karena itu, dicari alternatif pendekatan bisnis untuk kelemahan pendekatan keluarga. Pendekatan bisnis digunakan sebagai dasar pembangunan hubungan bisnis antara perusahaan dengan pemasok dan mitra bisnisnya dan antara manajer dengan karyawan, dan antar fungsi dalam perusahaan. Melalui pendekatan bisnis, perusahaan mencari mitra bisnis di luar hubungan keluarga, sehingga dapat dibangun hubungan bisnis dengan pihak yang memang memiliki kompetensi yang diperlukan menjalankan bisnis.

Pendekatan kemitraan usaha menggabungkan segi positif yang ada di dalam pendekatan keluarga dan pendekatan bisnis. Pendekatan kemitraan usaha menitikberatkan pada trust building dan core competency di dalam membangun hubungan kemitraan, baik di dalam organisasi perusahaan (antar manajer dengan karyawan dan antar fungsi dalam organisasi) maupun diantara perusahaan dengan para pemasok dan mitra bisnisnya.

Dikenal ada tiga tipe kemitraan usaha, yaitu: (a) Partnered Relationship (b) Strategic Alliance (c) Cross-functional Team. Fungsi kemitraan usaha, yaitu: (a) Penyiapan bahan pembinaan dan pengembangan kegiatan usaha. (b) Penyelenggaraan pembinaan dan pengembangan dan bimbingan usaha dan permodalan. (c) Penyelenggaraan penyebarluasan informasi dan mengembangkan sistem informasi, promosi dan melakukan analisis serta evaluasi sistem pemasaran. (d) Penilaian untuk pemberian rekomendasi kepada pengusaha. (e) Pembinaan usaha, peningkatan keterampilan dan pengembangan dinamika kelompok, mengatur dan melaksanakan kegiatan latihan keterampilan.

Agar terjamin adanya kesinambungan dalam kemitraan atau sustainable, maka kemitraan usaha perlu diarahkan untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang bersifat strategic. Tujuan strategic untuk menjadikan kemitraan usaha tersebut worth the efforts adalah dalam hal untuk : (1) Menghadapi persaingan bisnis global yaitu melakukan pembangunan jejaring organisasi, sebagai basis untuk bersaing di pasar global. (2) Optimalisasi smart technology dalam membangun quality relationship. (3) Menyediakan value terbaik bagi customer melalui focused strategy. (4) Pengarahan secara optimum berbagai core competencies perusahaan yang berada dalam jejaring untuk memuaskan kebutuhan customers.

Ada empat alasan mengapa jejaring organisasi lebih mampu memuasi kebutuhan customer daripada organisasi secara individual. Pertama, produk pada dasarnya merupakan satu bundle jasa yang berkemampuan untuk menghasilkan value bagi customers. Kedua, produsen produk dan jasa mempunyai kesempatan untuk mempertahankan kelangsungan hidup organisasi perusahaan mereka. Ketiga, konsep kualitas mencakup semua aspek organisasi perusahaan dan bahkan melampaui batas-batas organisasi perusahaan, meluas ke organisasi pemasok, mitra usaha, dan customers. Keempat, smart technology merupakan enabler untuk mewujudkan kemitraan antar perusahaan dan kemitraan antar fungsi dan antara manajer dengan karyawan dalam organisasi perusahaan.

Menurut pengamatan dari R.M. Kanter, jika produsen ingin bertahan hidup dan berkembang dalam lingkungan bisnis global, maka harus melakukan pemahaman dengan logika customer. Salah satu logika yang relevan dengan kemitraan usaha antara perusahaan dengan para pemasok dan mitra bisnis adalah “Produsen menginginkan maksimasi kembalian atas sumber daya yang mereka miliki. Customer berkepentingan dengan pemanfaatan sumber daya oleh produsen bagi customer, bukan bagi pemiliknya”. Menurut logika produsen, maksimasi financial return merupakan tujuan yang ingin diwujudkan dari setiap sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan produk dan jasa bagi customers. Dan pengorganisasian kegiatan yangmemberikan kenyamanan bagi produsen adalah dengan membagi pekerjaan layanan customer berdasarkan organisasi fungsional. Dengan organisasi fungsional ini produsen dapat memanfaatkan secara maksimum spesialisasi yang disediakan oleh setiap fungsi.

Kemitraan usaha dilandasi oleh paradigm:”kemitraan usaha melipatgandakan value bagi customer”. Di dalam lingkungan bisnis yang didalamnya terdapat customer memegang kendali bisnis. Keberhasilan perusahaan untuk menghasilkan value bagi customer merupakan faktor yang menentukan kemampuan perusahaan di dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Customer value sangat ditentukan oleh tiga faktor, yaitu: (a) Keyakinan dasar (b) Nilai dasar: kejujuran dan integritas (c) Dampak kemitraan: Pengendalian Manajemen dan Tindakan Perusahaan.

3. Dasar Hukum Kemitraan

Dasar hukum kemitraan adalah :

1) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil

2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1997 tentang Kemitraan

3) Keputusan Presiden RI Nomor 99 Tahun 1998 tentang Bidang/Jenis Usaha Yang Dicanangkan Untuk Usaha Kecil dan Bidang/Jenis Usaha Yang Terbuka Dengan Syarat Kemitraan

2 comments:

  1. tujuan kemitraan yang anda tuliskan bersumber dari mana ya? terima kasih

    ReplyDelete
  2. itu dulu di dari modul waktu q ambil mata kuliah kewirausahaan

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...